Reservat Jantaak Hulu, harapan untuk perikanan masa depan

Sendawar, diskan.kutaibaratkab.go.id.- Kabupaten Kutai Barat memiliki potensi Sumber Daya Alam yang melimpah untuk dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat.  Satu diantara potensi alam tersebut adalah ketersedian wilayah perairan yang terdiri dari sungai, danau dan rawa dengan keragaman populasi ikan endemiknya. Masyarakat telah memanfaatkan potensi perairan ini untuk aktifitas penangkapan ikan oleh para nelayan maupun memanfaatkannya dengan cara budidaya ikan oleh para pembudidaya.  Penangkapan ikan yang terus-menerus secara intensif serta penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan dikhawatirkan akan menyebabkan overfishing dan menyebabkan penurunan populasi serta keragaman ikan-ikan endemik.  Upaya-upaya untuk mengantisipasi penurunan populasi serta punahnya spesies ikan endemik telah dilakukan melalui kegiatan penyuluhan maupun pemasangan papan informasi di beberapa tempat.  Selain daripada itu upaya lain adalah dengan melibatkan masyarakat secara langsung untuk terlibat peduli bagi pelestarian kawasan perairan. Kampung Kelumpang misalnya, telah lama memiliki kawasan yang diperuntukan bagi tempat berlindungnya ikan-ikan pada musim-musim tertentu, untuk aktifitas pemijahan dan pembesaran.  Kampung yang dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan darat dengan waktu tempuh sekitar 60 menit dari ibu kota Kabupaten Kutai Barat ini memang dikenal sebagai sentra penghasil ikan, mengingat sebagian besar penduduknya adalah pelaku usaha perikanan.

Papan Pengumuman Larangan Penggunaan alat-alat tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan

Kawasan reservat danau Jantaak menurut informasi yang dikumpulkan oleh media ini memang telah ada sejak masih berada dibawah wilayah administrative Kabupaten Kutai. Luas Kawasan Reservaat Jantaak ini menurut Petrus, selaku ketua Pokmaswas (Kelompok masyarakat pengawas) Jantaak Lestari + 90 Ha, yang meliputi kawasan perairan dan beberapa kawasan daratan sebagai zona luarnya.  “Semenjak adanya kelompok pengawas ini, maka kawasan jantaak bisa terjaga, ikan-ikan dapat berkembang biak dan lumayan banyak, karena kawasan ini terlarang untuk aktifitas penangkapan ikan” ujar Petrus.  Aktifitas pengawasan oleh kelompok pengawas yang beranggotan 12 orang ini bukan saja dilakukan pada siang hari tetapi juga dilakukan malam hari, dan memang sering ditemui ada saja warga masyarakat yang mencoba untuk melakukan aktifitas penangkapan walaupun telah dilarang.  Petrus berharap agar wilayah ini dapat dilakukan pembersihan mengingat bahwa beberapa lokasi tempat berkumpulnya ikan-ikan telah banyak ditumbuhi oleh eceng gondok dan tumbuhan air lainnya yang menutup kawasan ini.

Aktifitas pemagaran alur sungai dikawasan jantaak ulu oleh Pokmaswas Jantaak Lestari untuk menghambat pergerakan perambahan kawasan reservaat

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kutai Barat, Dr. Ir. S.A. Samson, M.Si., M.Sc., melalui Kepala Bidang Pemberdayaan Nelayan dan pembudidaya Perikanan, Jakaria, S.Pi menuturkan bahwa keberadaan kawasan reservaat sangatlah penting bagi ketersediaan ikan di perairan. “Pengadaan kawasan konservasi di perairan umum seperti danau Jantaak Hulu ini akan sangat bermanfaat untuk membantu siklus hidup ikan agar terjaga. Apabila siklus hidup ikan terjaga akan menambah jumlah stok ikan di perairan tersebut” Tuturnya. (Jack/06/09/2019)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *