Sarlin, Pelaku Usaha Kerupuk dan Ikan Berbahan Baku Ikan dari Kampung Tj. Jone

Sendawar, diskan.kutaibaratkab.go.id. – Salah satu kuliner yang layak untuk dicoba ketika pembaca berkunjung ke Kabupaten Kutai Kutai Barat adalah jajanan berbahan baku Ikan Belida (ikan pipih) yang banyak diminati yaitu amplang dan kerupuk ikan belida.  Bagi anda yang menggemari aroma ikan, maka penganan ini cukup layak untuk dicoba.  Penganan berbahan baku ikan yang lezat ini, ternyata juga kaya akan protein karena berbahan baku ikan. “untuk membuat 1 kilogram kerupuk dibutuhkan sekitar 0,5 kilogram daging ikan belida kelas B, sedangkan untuk membuat 3 Kilogram amplang dibutuhkan sekitar 1 kilogram daging ikan belida kelas A. Daging kelas A adalah daging yang halus, sedangkan daging kelas B adalah daging yang kasar’ ujar Sarlin, seorang pembuat kerupuk dan amplang dari kampung Tanjung Jone Kecamatan Jempang.

Label Usaha yang dicetak secara manual

Usaha yang telah digelutinya ini telah berlangsung selama beberapa tahun ini ditekuninya bersama beberapa anggota keluarga.  Dalam seminggu baru bisa menghasilkan kerupuk dan amplang ikan belida sebanyak 30-50 kg. Rendahnya produksi disebabkan oleh karena terbatasnya pasokan ikan belida pada saat musim kemarau.  Selain itu terbatasnya peralatan juga merupakan salah satu kendala yang dihadapi oleh Sarlin dan kawan-kawan. “Peralatan yang kami pakai ini semuanya serba manual pak, mulai dari mengaduk, mengiris, mengeringkan, bahkan sampai kepada proses pengemasanpun masih menggunakan peralatan manual pak” ungkap Sarlin.  Diakuinya oleh karena penggunaan perlatan manual ini maka mutu produknya juga berkurang, sehingga kerupuk ataupun amplangnya mudah menurun kualitasnya.  Usaha rumahan yang diberi nama Bunga Tanjung ini ternyata telah dikenal sampai keluar daerah, produk yang dihasilkan berupa kerupuk dan amplang ikan belida ini banyak dipesan oleh masyarakat luar Kutai Barat. Ketika ditanya apakah berniat untuk mengganti bahan baku dari ikan belida ke bahan baku ikan lainnya, ia menolak karena alas an selera pelanggan. “Para pelanggan kita tidak mau rasa yang lain pak, sehingga bahan baku ikan belida ini tetap menjadi pilihan utama kami pak” ujar Sarlin.  Bahan baku yang didapatkan oleh Sarlin dari hasil tangkapan nelayan warga dihargai dengan harga 15 ribu rupiah perkilonya.  Usaha ini menurut Sarlin msaih bisa dikembangkan jika peralatan yang dipakai tidak manual lagi, dan cukup layak dijadikann usaha karena keuntungan yang cukup menjanjikan. “Kami berharap agar Pemerintah bisa membantu kami dalam hal bantuan peralatan dan bimbingan secara teknis terkait usaha kami” pungkas Sarlin. (jack/28/01/2020).

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *