Sungai Mahakam, urat nadi perekonomian warga nelayan

Sungai Mahakam

Penoh dengan gubang dan tambangan

Tulak hulu ke hilir

Membawa kekayaan alam

 

Sungai Mahakam

Mulai hambat siang dan malam

Air-mu tenang indah

Pemuba harian penghidupan

 

Reff.

Oh sungai Mahakam

Penuh dengan ceritanya

Tulak jaman Mulawarman

Penuh kisahnya

Sampai Samarinda nan jaya-a-a-a-aaaa

 

Itulah penggalan lirik lagu yang diciptakan oleh Drs. Rusdibyono yang menurut penulis menggambarkan betapa pentingnya peran sungai Mahakam bagi masyarakatnya. Hiruk pikuk oleh deru mesin dari aktifitas masyarakat yang memanfaatkan sungai ini tak pernah berhenti siang maupun malam.  Sungai dengan panjang sekitar 920 km ini melintasi wilayah Kabupaten Kutai Barat di bagian hulu, hingga Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda di bagian hilir. Di sungai hidup spesies mamalia ikan air tawar yang terancam punah, yakni Pesut Mahakam. Sungai Mahakam sejak dulu hingga saat ini memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat di sekitarnya sebagai sumber air, potensi perikanan maupun sebagai prasarana transportasi. (Sumber https://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Mahakam).

Kapal pengangkut barang di sungai Mahakam

Memang tidak dipungkiri bahwa aktifitas di sungai Mahakam ini seakan tiada henti, aktifitas masyarakat nelayan yang menangkap ikan, hilir mudik masyarakat yang menggunakan perahu kecil berupa ketinting, kapal bermotor yang mengangkut penumpang dan barang, maupun kapal pengangkut kekayaan alam Kalimantan berupa batubara seakan tiada henti terlihat sepanjang Mahakam.  Rumah-rumah penduduk yang berdomisili di sepanjang alur sungai Mahakam mengingatkan kembali masa puluhan tahun yang telah berlalu, betapa luar biasanya sungai ini menopang kehidupan masyarakat.  Memang kondisi sungai ini telah banyak berubah dibanding beberapa puluh tahun yang lalu.  Disaat musim kemarau biasanya air Mahakam akan terlihat sedikit jernih, sesekali jika beruntung dapat pula menyaksikan atraksi pesut Mahakam yang terkadang muncul di Muara Sungai Kedang Pahu, atau jika beruntung pada kala sore menjelang malam, ketika menaiki ketinting anda akan merasakan terjangan ikan kendia yang akan berloncatan ke atas perahu.

Nelayan dengan perahu ketinting sedang menangkap ikan menggunakan jaring insang

Namun sekarang air sungai Mahakam lebih bertahan pada kondisi keruh, sang Pesutpun jarang dijumpai, begitu pula terjangan ikan kendia hanya tinggal kenangan.  Yang masih sering dirasakan adalah bagaimana sungai ini meluap ke bibir pantai bahkan meluap ke pemukiman penduduk.  Sayangnya fenomena ini sudah tak dapat diprediksi lagi sebagaimana dahulu.  Tapi paling tidak sungai Mahakam ini akan terus mendapat tempat berada dihati masyarakatnya, banjir yang menimbulkan masalah tetapi juga mendatangkan berkah bagi para nelayan terutama yang berdomisili di Kecamatan Muara Pahu, Penyinggahan, dan Kecamatan Jempang. Ada banyak ikan endemic yang dapat ditangkap di perairan sungai Mahakam maupun anak-anak sungainya, termasuk beberapa danau seperti danau Jempang yang terkenal itu, sehingga mampu menopang kehidupan masyarakat terutama yang berprofesi sebagai Nelayan. Semoga Mahakam-ku tetap lestari dan membawa berkah bagi masyarakat Kutai Barat Menuju Hari Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini

Sungai Mahakam

Mengalir di Kalimantan Timur

Ruhui rahayu,

Rakyatmu hidup adil dan makmur………….(jack 18/07/2019).

 

 

 

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *