DISKAN – Sendawar, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat
terus memperkuat langkah strategis dalam membangun ekosistem usaha perikanan
yang berkelanjutan melalui sinergi antara DPRD dan Dinas Perikanan. Upaya
tersebut dibahas dalam kegiatan Diskusi Pembangunan Ekosistem Usaha Perikanan
Kutai Barat yang mempertemukan Komisi II DPRD Kutai Barat bersama jajaran Dinas
Perikanan untuk membahas berbagai tantangan, peluang, serta strategi
pengembangan sektor perikanan daerah bertempat di Ruang Diklat Lantai 3 Kantor
Bupati Kutai Barat pada Selasa (14/7).
Suasana diskusi yang dihadiri oleh Ketua dan anggota Komisi II DPRD Kutai Barat dan Jajaran Dinas Perikanan, selasa (14/7)
Diskusi yang
dihadiri oleh Komisi II Potit (Ketua Komisi
II), Rull Riskha Risandie, Adrianus, Rita Asmara Dewi, Dinas Perikanan, Leonard Yudiarto (Kepala
Dinas), Jakaria, Leli, Julfrianto, Windo Namitra, Rikardo Wilda, Teysen
Fernandes, dan ASN Dinas Perikanan tersebut
menyoroti pentingnya perencanaan yang matang dalam pengembangan usaha budidaya
perikanan, mulai dari kesiapan infrastruktur, pengelolaan anggaran, penyediaan
benih, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga penguatan koordinasi
antarinstansi. Kepala Dinas Perikanan Kutai Barat bersama jajaran teknis
menyampaikan bahwa pembangunan sektor perikanan membutuhkan pendekatan
menyeluruh agar program yang dijalankan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi
masyarakat secara berkelanjutan.
Salah satu perhatian utama dalam diskusi
adalah kesiapan infrastruktur budidaya, terutama pembangunan kolam dan
ketersediaan sumber air. Pemerintah daerah berupaya memastikan pembangunan
sarana dilakukan secara efektif melalui pemilihan teknologi yang sesuai,
seperti kolam bundar dan kolam geomembran yang dapat meningkatkan efisiensi
penggunaan air serta mengatasi tantangan kondisi lahan.
Selain infrastruktur, ketersediaan benih
menjadi faktor penting dalam mendukung peningkatan produksi perikanan Kutai
Barat. Dalam diskusi disebutkan bahwa kebutuhan benih daerah masih jauh lebih
besar dibandingkan kapasitas produksi Balai Benih Ikan (BBI) yang tersedia saat
ini. Kondisi tersebut mendorong perlunya peningkatan kapasitas BBI,
optimalisasi lahan produksi, serta penguatan kerja sama dengan berbagai pihak
agar ketergantungan pasokan benih dari luar daerah dapat dikurangi.
Pemerintah daerah juga memberikan perhatian
terhadap peningkatan kompetensi pembudidaya melalui program pelatihan dan
pendampingan teknis. Hal ini dilakukan untuk memastikan bantuan sarana maupun
bibit yang diberikan dapat dikelola secara produktif. Pelatihan berbasis teori
dan praktik, pendampingan penyuluh, serta proses verifikasi calon penerima
menjadi bagian penting agar program pemberdayaan masyarakat dapat berjalan
tepat sasaran.
Dalam aspek pengawasan sumber daya perikanan,
diskusi turut membahas tantangan praktik penangkapan ikan ilegal yang masih terjadi
di beberapa wilayah. Dinas Perikanan bersama DPRD Kutai Barat sepakat
memperkuat pengawasan dan edukasi masyarakat agar aktivitas perikanan dapat
berjalan sesuai aturan serta menjaga keberlanjutan ekosistem perairan.
Pendekatan penegakan hukum juga akan diimbangi dengan upaya pemberian
alternatif mata pencaharian melalui pengembangan usaha budidaya.
Sinergi antarlembaga menjadi kunci dalam
mewujudkan pembangunan ekosistem usaha perikanan. Komisi II DPRD Kutai Barat
berperan dalam pengawasan kebijakan dan dukungan lintas sektor, sementara Dinas
Perikanan menjadi penggerak teknis dalam perencanaan, pelaksanaan program,
serta pengembangan kapasitas pelaku usaha perikanan. Kolaborasi tersebut
diharapkan mampu mempercepat terwujudnya kawasan budidaya yang produktif dan
berdaya saing.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat
menargetkan penguatan kemandirian sektor perikanan melalui peningkatan produksi
benih lokal, pengembangan kawasan budidaya, peningkatan kualitas sumber daya
manusia, serta pembukaan peluang investasi di bidang perikanan. Pengembangan
kawasan potensial seperti Kecamatan Jempang, Penyinggahan, Muara Pahu, Damai,
Melak, Tering, Mok Manor Bulatn juga menjadi bagian dari rencana strategis
dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan melalui kajian yang diperlukan.
Melalui pembangunan ekosistem usaha perikanan
yang terintegrasi, Kutai Barat optimistis sektor perikanan dapat menjadi salah
satu penggerak ekonomi daerah sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat.
Sinergi antara pemerintah, legislatif, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi
fondasi utama dalam menciptakan perikanan Kutai Barat yang mandiri, produktif,
dan berkelanjutan.
Penulis :
Jakaria
Foto : Dea Steffani